Agustus 20, 2010

Mulut terbatas materi duniawi

Sepiring nasi ku lahap lagi,
untuk apa sih?
semangkuk sup ku lumat lagi,
untuk apa sih?
secangkir teh ku teguk lagi,
untuk apa sih?
sebatang rokok ku hisap lagi,
untuk apa sih?
lagi-lagi aku tak tahu untuk apa?
Hhmmm.. pikir ku berkelakar lagi,
dan MULUT hanya terbatas pada materi duniawi..

Juli 22, 2010

Aku dan Tulisanku

..Adakah seorang yang bertanya akan aku ketika aku..
..Adakah seorang yang mencibir namaku ketika aku..
..Mereka tak pernah bertanya satu kata..
..Mereka tak pernah memberiku makna..


..Tulisanku adalah diriku..
..Diriku mustahil adalah tulisanku..
..Jemariku menulis seperintah otakku..
..Tetapi tidak pernah dengan rasa hatiku..


..Diriku tak enyahnya sebaris tulisanku..
..dan tulisanku tak mampu bercerita tentang aku..
..Ingin aku memasukkan diriku ke dalam tulisanku..
..Berharap aku bisa mendapat arti hadirku..


..Diriku bukan milikku, lingkunganku telah mengubahku..
..Adakah orang pernah menerima aku berbeda dengan tulisanku..
..Berjayalah kalimat-kalimat yang kutulis untukku..
..Sebab aku bukanlah aku yang sejatinya itu aku..


..Duniaku memberi tahu tentang aku ke tulisanku..
..Dan tulisanku memberi tahu tentang aku ke dunia..
..Sementara aku tak pernah berbuat hal yang sama..
..kepada tulisanku, aku berharap semua itu nyata..


..Diiriku adalah susunan tulang daging darah..
..Yang mungkin merasa resah, sedih, dan marah..
..Tulisanku adalah produksi otakku yang bersahaja..
..tapi tak mampu bercerita kisah hidupku yang bermakna..



....I’m a bitter realist....

Juni 05, 2010

sembunyi dalam tamanmu

terima kasih  telah menyisakan pojok hatimu untuk menyayangiku. tak perlu kau iba pada lamunanku. aku tidak akan bertanya kenapa. terima kasih  telah menjadikan aku pereda nyerimu. aku sembunyi di tamanmu tuk mencari nafas bumi pahit rongga di dadamu. setiap kelam menikam, biar saja luka kita berpagutan saling menyembuhkan. selamanya taman ini tak terkunci untukku, untukmu. datanglah kapanpun kau mau tak perlu mengetuk pintu hatiku.

Juni 04, 2010

kosong dalam ketiadaan

Ya, Rabb..!! di malam hening ku termenung dalam rengkuhan nista yang kian larut semakin menusuk. entah apa yang terlintas dalam pikiranku pada malam ini tentang suatu rasa yang lazim ada pada insan manusia. Rasa iri, sedih, haru, cemburu, rindu terhadap apa yang ada di sekelilingku. pikiranku sungguh berantakan, semua bercampur aduk menjadi sebuah kegalauan yang meringkuh. seketika air mata menetes dan terisak tangis sendu pilu. entahlah, rasanya malam ini begitu heningnya aku berada di dalam bilik kamar dan terpojok terbelenggu merenung lamunan jiwa. jiwa yang selalu merasa haus, jiwa yang selalu merasa lapar akan indahnya keharmonisan. apakah mungkin hati kecil ini tidak kuat untuk terus bertahan dalam ketiadaan, ketiadaan tanpa kasih sayang, ketiadaan tanpa hiruk pikuk alunan rindu, ketiadaan untuk meronta akan ketidakpastian untuk hidup. Aku hidup dalam kekososngan yang nyata dan teramat abadi. luluh ditempa denting waktu yang terus menuntut kepastian kedamaian hati. jiwa yang dulu tak pernah merasa jua, kini bimbang ditengah hamparan samudra yang terus mengering. hati ini terasa amat sangat dahaga akan kasih sayang,  cinta, rindu yang tak pekat wujudnya. jurang yang begitu curam dan dalam selalu menungguku masuk ke dalam rongga lamunan kehancuran. kosong yang selalu ada tanpa penglihatan yang  nyata, semua terasa dekat menuntunku masuk.

Ya, Rahman...!! harus sampai kapanku menghentikan pertengakaran hati ini.sekian lama ku hidup dalam keributan yang selalu menghantui perasaan ini. aku selalu kesepian dalam keramaian dan tersenyum palsu dalam kekosongan. hidupku segan pada angan-angan menghadang, mati pun aku tak rindu apalagi sekedar demdam. Di bilik hati ku bersandar lesu tak kuat menahan senyuman palsu dalam rindu meruduk keseimbangan yang syahdu. Banyu biru berpasir selalu menyapaku tapi aku diam dengan angkuhku. adakah secuil kosombongan pada diriku? entah mengapa kubiarkan hatiku berlarut seperti ini.

Mei 31, 2010

Hela Nafas Jiwa

Lembayung jatuh di sudut cakrawala
Tertelan pekat tanpa terasa
pergantian waktu semakin nelangsa
harapan tersadar tak jua tiba

impian tertata satu per satu dalam rongga
sementara degub berdenyut tak seiring nada
terkulai lunglai bak tak bernyawa
seujung jaripun tak mampu sambutkan raba


sedangku di sini berduka lara
merintih lirih memendam kecewa
sedang lelehan mata tak lagi bermakna
pasrah dan leburkan diri dalam doa

dan penantiannku berakhir di ujung hela nafas jiwa..